|
所在平台: Udemy |
课程主页: https://www.udemy.com/course/belajar-lebih-dekat-mengenal-mata-uang-tunggal-eropa-euro/
课程评论:没有评论
本课程深入探讨了欧洲单一货币——欧元的起源、发展及其相关概念。课程内容涵盖以下几个关键领域: * **欧洲货币单位 (ECU) 与欧元:** 解释了ECU作为欧元的先驱,以及欧元本身的概念。 * **欧洲经济区 (EEA) 与欧洲自由贸易协会 (EFTA):** 阐述了这两个区域组织及其与货币一体化的关系。 * **欧洲货币合作基金 (EMCF) 与欧洲货币研究所 (EMI):** 介绍了这些机构在货币合作和政策制定中的作用。 * **欧洲货币体系 (EMS) 与欧洲联盟 (EU):** 探讨了EMS作为建立单一货币的早期框架,以及欧盟在推动货币一体化过程中的角色。 * **遗产货币 (Legacy Currency) 与欧元区 (Euroland):** 解释了加入欧元的国家在过渡期使用的原有货币,以及欧元区这一概念。 * **欧洲中央银行 (ECB):** 详细介绍了欧洲中央银行的职能和在欧元体系中的核心地位。 课程追溯了欧洲经济一体化的历史进程,特别是欧洲西部国家自1985年决定建立单一市场以来,对货币统一的设想。尽管最初设想的实现过程并未预料得如此迅速,但在短短几年内,尤其是在1989年东欧剧变和1991年《马斯特里赫特条约》签署后,欧元的一体化进程得到了极大的推动。 课程也强调了政治因素在欧元诞生过程中的关键作用,尤其是德国统一对欧元计划的影响,以及法国和德国在这期间的决策。尽管经历了货币动荡和经济挑战,最终有11个欧盟国家在1998年符合条件,为欧元的诞生铺平了道路。 最后,课程也简要提及了欧元对印度尼西亚等其他国家经济的影响,并介绍了印度尼西亚银行在处理欧元过渡期的相关政策。课程还观察了欧元早期兑美元的汇率波动,指出美元的强势地位。 总而言之,本课程全面解析了欧元的诞生及其背后的政治、经济和社会动因,为学习者提供了对这一重要国际货币的深刻理解。
Kelas ini mengajarkan apa yang dimaksud dengan:(a) Euro/European Currency Unit (ECU);(b) European Economic Area, EEA (Kawasan Ekonomi Eropa);(c) European Free Trade Association, EFTA (Kawasan Perdagangan Bebas Eropa);(d) European Monetary Cooperation Fund, EMCF (Dana Kerjasama Moneter Eropa);(e) European Monetary Institute, EMI (Institute Moneter Eropa);(f) European Monetary System, EMS (Sistem Moneter Eropa);(g) European Union (Uni Eropa);(h) Mata uang legacy;(i) Euroland;(j) European CEntral Bank, ECB (Bank Sentral Eropa);Ketika Eropa Barat memutuskan membentuk pasar tunggal untuk barang, modal, tenaga kerja, dan jasa pada 1985, para ekonom memang yakin bahwa kesatuan mata uang suatu saat akan menjadi kenyataan. Namun yang tidak mereka bayangkan adalah prosesnya yang berlangsung begitu cepat.Euro menjadi kenyataan hanya dalam waktu enam tahun sejak selesainya rangkaian program yang membuat pasar tunggal menjadi kenyataan atau sekitar tujuh tahun sejak jadwal penyatuan mata uang dipaparkan di Maastricht, Belanda.Jadi bisa disimpulkan bahwa Euro yang sangat penting baik secara politis maupun ekonomi disadari dalam waktu relatif singkat. Ini mencerminkan adanya kondisi yang sangat mendukung saat keputusan membentuk mata uang tunggal diambil.Pada 1989, ketika komunisme runtuh di seluruh kawasan Eropa Tengah dan Eropa Timur, pembentukan mata uang tunggal telah menjadi ide mapan di kawasan Eropa Barat. Sukses program pasar tungggal telah menciptakan gelombang baru antusiasme integrasi. Pada April 1989, Komisi Eropa saat ini dipimpin Jacques Delor dari Prancis memaparkan jadwal rinci perjalanan ke arah mata uang tunggal.Pada pertemuan puncak di Madrid, Spanyol, Juni 1989, para pemimpin Eropa Barat sepakat meliberalisasi arus pergerakan modal bersamaan dengan langkah-langkah untuk mengurangi fluktuasi nilai antarmata uang mereka. Ini semua bertujuan mempromosikan titik temu perekonomian dengan visi membentuk sistem nilai tukar yang tetap.Terlepas dari langkah-langkah persiapan sejak lahir 1989-an itu, persiapan yang melangkah jauh ke depan, tidak pernah diantisipasi.Prancis, Jerman, tiga negara Benelux, dan Italia, telah mengikatkan diri dengan tujuan penyatuan mata uang sejak awal 1969. Ketika Werner Report diterbitkan 1970, negara-negara ini telah bergerak jauh ke depan dengan menyusun 'cetak biru' mata uang tunggal. Apa yang mereka susun ternyata sangat mirip dengan kerangka kerja yang dihasilkan pada pertemuan Maastricht.Dalam perjalanan selanjutnya, kerangka kerja yang telah disusun dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, pelaksanaannya sempat tersendat-sendat. Rupanya ada faktor-faktor di luar jangkauan para pemimpin Eropa Barat. Kegoncangan nilai mata uang dan perubahan harga minyak secara tiba-tiba yang menimbulkan inflasi di luar perhitungan, menunda pelaksanaan sejumlah proyek.Namun di luar perhitungan para pemimpin, tiba-tiba muncul faktor yang sangat menentukan, yaitu penyatuan Jerman. Berbagai peristiwa di kawasan Eropa Timur terbukti menjadi katalisator yang menjamin perencanaan pelaksanaan komitmen dan jadwal waktu yang disepakati pada pertemuan Maastricht, Desember 1991.Dengan memperhatikan berbagai perkembangan di kawasan Eropa Timur, sejumlah negara Eropa Timur dan Eropa Barat sempat cemas bahwa Jerman yang bersatu akan muncul menjadi kekuatan dominan di Eropa.Prancis termasuk kelompok yang mencemaskan hal itu. Namun setelah kenyataan menunjukkan proses penyatuan Jerman tidak bisa dihentikan, kebijakan Prancis pun berubah. Paris menyimpulkan, bila Jerman akhirnya bersatu, maka negara ini harus masuk ke dalam integrasi Eropa yang lebih luas.Di sisi lain, Kanselir Jerman waktu itu, Helmut Kohl, juga menerapkan logika yang sama. Hasilnya, Bonn tidak 'ngotot' mempertahankan mata uang Mark. Padahal mata uang ini bisa disebut sebagai lambang masa pencerahan perekonomian Jerman pascaperang.Presiden Prancis, waktu itu, Francois Metterand, kemudian meyakinkan Margareth Thatcher kala itu menjadi Perdana Menteri Inggris yang juga mencemaskan penyatuan Jerman. Secara politis Inggris memang tidak bisa menghalangi mitranya di Eropa daratan untuk terus melangkah dengan rencana penyatuan mata uang. Namun London punya kekuatan menunda. Pengalaman pada 1970-an menunjukkan bahwa Inggris mampu membalikkan seluruh proyek.Pertanyaan apakah penyatuan mata uang bisa menjadi kenyataan belum juga lenyap walau Perjanjian Maastricht telah ditandatangani. Masa depan penyatuan Jerman hampir saja membuat seluruh proyek tergelincir ke luar rel.Keputusan Kohl membiayai penyatuan Jerman menggunakan dana pinjaman bukan menaikkan pajak membuat tingkat suku bunga di Jerman bertahan pada titik yang sangat menyakitkan dunia usaha. Kebijakan ini melahirkan pukulan berat bagi perekonomian di seluruh Eropa. Akibatnya, sampai 1997 belum ada kepastian bahwa sejumlah negara mampu memenuhi kualifikasi di bidang ekonomi untuk bergabung dengan Euro.Akhir kecemasan ini tidak menjadi kenyataan. Kombinasi kemauan politik, perbaikan ekonomi pada detik-detik terakhir, dan sejumlah peraturan, akhirnya membuat 11 negara dari 15 negara-negara Uni Eropa, Mei 1998, menyatakan siap menerima Euro.Satu hal yang sepertinya disepakati semua pihak adalah, Euro akan menjadi katalisator perubahan. Namun sampai saat ini belum ada orang yang bisa memastikan seberapa cepat perubahan itu.Salah satu hal penting dengan adanya Euro ini adalah sebagai perantar bagi transaksi perdagangan di berbagai negara. Ini merupakan peluang meningkatkan ekspor selama (eksportir) mengetahui adanya kesempatan tersebut.Untuk Indonesia mulai berlaku Euro belum banyak artinya. Hubungan ekonomi dengan Jepang lebih penting, karena itu mata uang Yen lebih berpengaruh di samping daollar AS yang masih mendominasi dunia.Namun demikian perkembangan EMU tetap harus dicermati, karena hubungan ekonominya dengan Indonesia masih tetap signifikan. Pengaruh Euro terhadap rupiah dari segi perdagangan dan aliran finansial cukup besar.Bank Indonesia menetapkan tiga hal berkaitan dengan Euro. Pertama, bank sentral memberikan kebebasan kepada bank-bank devisa untuk mengkonversikan legacy currency ( 11 mata uang anggota Euro ) terhadap Euro.Kedua, BI akan mengumumkan kurs wesel ekspor, kurs untuk transaksi dengan pemerintah dan kurs neraca dalam valuta yang termasuk dalam legacy currencies yaitu schilling Austris (ATS), franc Belgia (BEF), mark Jerman (DEM), guilder Belanda (NGL), franc Prancis (FRF), lira Italia (ITL) dan Euro.Ketiga, sampai dengan penerbitan banknotes Euro pada tahun 2002, BI masih akan menerima lagacy currencies yaitu ATS, BEF, DEM dan FRF.Seperti bayi yang baru lahir, Euro tampaknya masih rentan akan penyakit. Si mata uang tunggal Eropa ini cuma sempat menguat beberapa hari di awal-awal kelahirannya, per 1 Januari 1999. Dari semula pasang bandar 1,6675 US$/Euro, Euro menggemuk menjadi 1,175. Tapi, sebulan kemudian, merosot. Dolar rupanya masih dominan. Pada 1 Februari 1999 lalu, nilai tukar Euro tingga menjadi 0,883 per dolar AS.